Kamis, 13 Maret 2014

APATIS RIA: Tentang Partisipasi dan Sikap Tak Acuh



                Seperti ada yang salah?
                “Apatis ria” adalah tema yang telah banyak dibicarakan. Namun rupa-rupanya mungkin ada yang salah? Apakah esensi dari kata tersebut? Ataukah penggunaan kata tersebut? Tidak ingin mengawalinya dengan sebuah kutipan, tetapi ini penting—mengingat kita selalu suka dengan hal-hal yang esensi.
Apatis diartikan sebagai sikap acuh tak acuh, sikap seseorang yang tidak peduli karena tidak memiliki passion terhadap sesuatu. Tetapi apakah apatis selalu berarti sikap tak acuh terhadap isu sosial? Sebentar, lantas isu sosial yang seperti apa? Hari ini kita hidup dengan sejuta informasi yang less and meaning less. Rasa-rasanya sekarang semua bisa menjadi isu sosial jika menjadi trending topic?
                Sebelum menulis ini saya juga bertanya sekaligus berkaca pada diri sendiri, apakah saya (anak muda Indonesia) yang bersikap apatis? Kemudian muncul pertanyaan lainnya, memang indikator apa saja yang dapat menyatakan bahwa saya (anak muda Indonesia) yang peduli terhadap isu sosial? Ah…kita bertemu pada siklus pertanyaan yang tak habis-habis.

Peduli apa?
                “Iya! Gue rasa anak muda sekarang apatis, Tan.” Jawab seorang teman ketika saya melakukan survey kecil-kecilan sebelum menulis ini. “Udah nggak peduli lagi sama isu-isu yang ada di TV gitu deh. Bosen. Dan nggak penting juga, mending seneng-seneng aja deh hidup.” Tambah segelintir alasan lagi yang memperkuat jawaban bahwa anak muda sekarang apatis.
Kalau begitu, haruskah anak muda melakukan hal-hal berbau sosial agar tidak disebut apatis? Hari ini kita hidup dimana target-target pekerjaan lebih penting dari sekedar ikut acara diskusi dan berpikir untuk memajukan bangsa. Hari ini kita hidup dengan jalanan macet sebagai teman setia untuk berkomepetisi dalam berbagai hal. Boro-boro ingat persoalan bangsa, menjalani hidup saja sudah lelah. Namun seringkali secara tidak sadar kita selalu terbentur masalah rasionalitas. Seringkali kita memilih “yang mana yang penting”, dan “yang mana yang tidak penting” untuk hidup kita sendiri. Inilah yang dimaksud Franz Magnis Suseno dalam papernya “Globalisasi dan Kearifan Lokal” yang menyatakan bahwa tantangan globalisasi ialah “pendangkalan” orang. Dengan sosial media tujuannya orang menjadi pencitraan diri dalam arti bahwa ia semakin hanya menikmati atau memprihatinkan bagaimana ia “kelihatan”. Orang-orang dibuat menjadi sibuk memikirkan diri sendiri hanya karena ingin dianggap “ada”. Akhirnya globalisasi, menurut Habermas, bukan menjadi sebuah pemberdayaan yang memajukan, namun justru memperlemah dan rentan untuk dimanipulasi. Membuat kita hanya fokus pada komentar-komentar singkat di sosial media tanpa berusaha membentuk karakter yang pada nyatanya justru lebih penting.
Tetapi pendapat teman saya di atas itu, dan juga cerita-cerita malasnya orang mengikuti seminar atau diskusi kebangsaan—pasti adalah karena alasan. Sederhana saja, kita menjadi skeptis dengan pemerintah. Kita terlalu lelah mendengar kata “korupsi” di kotak 14 inchi kita itu. Sehingga akhirnya kita fokus pada bagaimana hidup kita harus berjalan. Maka pertemuan generasi muda dengan globalisasi sebenarnya tidak melulu hal negatif. Seperti yang dikatakan Habermas, globalisasi dengan segala kecanggihan teknologi-nya membuat kita terfokus pada apa yang harus kita lakukan. Tidak lagi mengadakan debat kusir, apalagi turun ke jalan untuk tawuran atau saling membunuh karena perbedaan pendapat. Belum lagi apabila kita melihat beragamnya komunitas yang dibentuk anak-anak muda kini mulai bermunculan, apakah masih generasi muda saat ini pantas dibilang apatis? Kita masih memiliki banyak anak muda yang tak perlu mengumbar di jejaring sosial, tetapi sangat peduli dengan bangsa ini dengan caranya masing-masing. Kalau begitu, apatis juga bukan berarti karena kita tidak ikut berpartisipasi.
Disinilah poin diskusi kita. Dosen saya pernah menulis tentang persoalan konsep partisipasi yang menggeser dalam sistem demokrasi, tentunya ini di Indonesia. Dalam tulisannya itu ia menyimpulkan bahwa kita yang sering dikatakan sebagai tokoh utama dalam demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” justru tidak pernah peduli. Kita hanya memenuhi bilik-bilik pemilu untuk memilih calon pemimpin, namun tidak pernah ikut mengkontrol dan mengkritisi sikap dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Inilah yang saya rasa mengapa muncul kesimpulan bahwa, generasi muda saat ini apatis. Kita seperti tak cinta pada bangsanya sendiri karena kita rela membiarkan orang-orang besar dan berkuasa di sana menghancurkan bangsa ini. Kita hanya sibuk sendiri dengan “pengakuan sosial” supaya dianggap ada dan hadir. Kita tidak pernah benar-benar serius peduli dalam membentuk karakter bangsa.

Lalui Peluang dan Tantangan
Lantas harus berbuat apa?
Saya ingin memulai bagian ini dengan satu contoh kecil. Misalnya saja ketika kita sedang berada di angkutan umum dan melihat seorang anak membuang kulit pisang sembarangan ke jalan. Kita tidak memberitahunya secara baik-baik, namun malah asik sendiri tak peduli karena merasa, “yang penting bukan anak saya.” Bukankah itu juga bentuk sikap  tak acuh? Sementara kita baru saja me-retweet kata-kata mutiara di Twitter yang esensinya adalah tentang “kepedulian”. Sungguh kita terlalu terlena hidup di dalam dunia maya.
Saya rasa yang harus menjadi fokus kita sebagai generasi penerus saat ini ialah betuk integritas yang tinggi. Integritas memang tak berwujud fisik, tetapi ia merupakan satu-satunya untuk melalui tantangan dari ketidakpedulian persoalan bangsa ini. Anak muda tak harus melulu membuat diskusi setiap waktu untuk menyatakan kepedulian. Tetapi dapat melakukan segala pekerjaan masing-masing dengan integritas demi terciptanya karakter bangsa lah yang membantu membentuk karakter. Anda boleh menjadi tukang pisang goreng, tetapi dengan integritas Anda tidak akan menggoreng pisang itu dengan sembarangan. Itulah yang saya maksud bahwa karakter itu penting. Itu lah yang saya rasa satu-satunya cara untuk membuat kita peduli pada bangsa ini.
Terakhir, saya begitu takut saya menulis ini hanya karena ingin menunjukkan saya “ada”. Saya takut menjadi menjadi apatis ketika tulisan-tulisan yang berwarna semangat perubahan hanya menjadi dokumentasi, lantas sikap tak acuh tetap menjadi pembahasan yang tak habis-habis, dan hanya berakhir pada sekadar topik diskusi-diskusi klise.

Video dari BRNDLS yang satu ini, saya rasa dapat mewakili apa yang saya rasa, dan semoga semua anak muda Indonesia-yang disebut sebagai anak muda paling emas yang dimiliki Bangsa ini-dapat merubahnya dari kerakusan.

BRNDLS (Feat. Mourgue Vanguard) - ABRASI



Ditulis untuk Pamflet http://pamflet.or.id/blog/apatis-ria-tentang-partisipasi-dan-sikap-tak-acuh

Jumat, 13 Desember 2013

Menyulam 2013





                Mengawali tulisan ini sebenarnya serba rumit. Isi kepala dan isi di dada berlomba mencari perhatian. Semuanya merupakan kontempelasi dari quartet life crisis yang saya alami. Mungkin menjadi tampak klise karena kalimat tersebut sudah mulai digunakan oleh banyak orang—yang terkadang maknanya kabur dan seketika menjadi menye-menye nyerempet jadi curhatan. Namun akhirnya memang begitulah mungkin makna dari quartet life crisis. Bagi Nisa Rahmanti[1], setiap orang (khususnya perempuan) diumur 20-an, pastinya mengalami krisis ¼ ini. Kompleksitas yang saya alami pasti dialami juga oleh banyak orang, maka sering kita ucapkan, “njrit…gue banget!”. Sejujurnya file dengan judul quartet life crisis di laptop saya sudah menumpuk hingga 5-7 file. Apabila saya buka dan baca kembali, padahal isinya sekitar 3 sampai 10 paragraf saja. Keseluruhan merupakan luapan emosi yang entah mau dibuang kemana, dan (semoga) lebih baik diluapkan ke dalam tulisan.
                Melanjuti perjalanan tahun sebelumnya, 2013 masih saya jalani dengan penuh keraguan. Berlayar di 21 saya rasa krisis ini dimulai sejak Juni 2012 lalu. Mengapa Juni? Karena pada Juni itulah zona nyaman hidup saya sirna. Indikatornya bisa dilihat dari bulan Juni adalah update terakhir tulisan di blog saya. Mengapa menjadi indikator? Rupa-rupa-nya krisis keraguan, krisis kepercayaan, krisis percaya diri, dan segala ketakutan yang berakar tersebut membuat mahluk ini hanya habis dimakan ketakutan dan tidak berdaya melakukan hal apa-apa. Bahkan untuk sekedar mengisi laman di blog pribadi.
                Dibalik itu saya menyadari bahwa ada prasangka yang kuat, ia muncul dari ketakutan, ia ada di dalam bawah sadar yang hidup, ia berkuasa, ia ada dalam diri ini, dan ia begitu kuat bagi realitas.

Karena 2012 adalah “Koma”

                April, 2012, saya berhasil menamatkan kuliah tingkat pertama dengan penuh haru. Mengingat perjuangan yang tak sendiri, sebab keluarga selalu berada di belakang saya menjadi motivasi terbesar. Dengan penuh dorongan dalam hati bahwa kini giliran saya yang harus membuat mereka bahagia. “Bahagia” saat itu bagi saya adalah dapat membelikan sebuah mobil bagi keluarga.
Selama kuliah diantar jemput oleh Ayah, kami telah terbiasa menyeimbangkan tubuh di motor, menyalip diantara sela-sela kendaraan roda empat yang mewah di sepanjang jalan Pondok Indah. Di sepanjang jalan itulah saya slalu yakin akan dapat membelikan salah satu mobil yang kami salip setiap hari itu.
Tetapi keinginan punya mobil perlahan di ambang keraguan. Ini karena pola pikir saya berubah. Tahap pertama: Pasca lulus sidang, saya dan teman-teman sering berkumpul, bercerita dan memikirkan jalan hidup selanjutnya masing-masing. Kelulusan ini menjadi semacam helaan nafas bagi kami. Pikir kami, perjalanan hidup yang ke-20 tahun merupakan akhir dari “keperihatinan” akan hidup. Bayangan dapat membeli ini dan itu sesuka hati sudah di depan mata. Tapi.. Oh, itu mungkin bagi mereka, bukan saya. Ketika teman-teman telah memiliki tekad akan bekerja di bank, industri otomotif, financial consultation, etc etc—saya justru masih menyimpan keinginan untuk menjadi penulis. Penulis apa? Pikir saya dalam hati. Masih belum tahu. Ketika saya menginginkannya, ketika itu juga saya meragukannya.
Selepas wisuda, entah ada angin apa, tiba-tiba saja dosen saya meminta saya untuk bergabung di kampus alamamater. Tetapi saya harus mengakui, bukan dunia menulis akademik yang sebenarnya saya mau. Saya ingin menulis dibidang seni. Saya ingin menyelami seni hidup. Singkatnya tidak mau menulis serius semacam peneliti. 3,5 tahun sudah cukup rasanya menyelami Ilmu Hubungan Internasional (HI).
Tetapi ketika mama tahu bahwa saya ditawari S2, ia pun memberi semangat yang sangat besar. Maklum, menjadi guru baginya adalah pekerjaan yang mulia. Dosen. Profesi yang prestige. Tapi di Indonesia? Masih kalah prestige  dengan Olga Syahputra dan kawan-kawan Dahsyat. Diperhatikan caleg? Boro-boro, para dosen dan peneliti justru harus mengamini jargon, “Dunia akademik uangnya kecil”. Lucunya stigma yang muncul ialah “Dosen adalah pekerjaan yang mulia sehinga tidak apa penghasilan kecil”. Stigma itu bagi saya menjadi semacam pewajaran dari negara ini. Bayangkan saja mereka hanya memberikan 0,4% dari APBN bagi perkembangan penelitian—padahal kata RI-1, “Tekhnologi dan penelitian adalah penunjang utama bagi kemajuan bangsa”. Ahahaa tuan omong kosong! Memang, di negeri leberaless ini kita harus paham bahwa Professor gajinya kalah dengan pengelola gedung mall. Lihat saja gedung LIPI yang kusam dan berhantu itu. Coba bandingkan dengan gedung-gedung mall. Oiya, yang penting, kan, mulia, yah.
Itulah pikiran marah saya terhadap sebuah kenyataan yang harus dihadapi di negeri budak ini. Pada tahap kedua inilah juga alasan mengapa saya membenci realita yang memaksakan beli mobil hanya untuk mendongkrang life style. Imbasnya? Rasa benci tapi butuh jadi tarik menarik. Faktor yang terlihat “sepele” itu justru menjadi faktor besar mengapa tawaran S2 ini menjadi sebuah oase bagi saya. Mungkinkah dengan menjadi dosen adalah jalan hidup yang baik bagi kebahagiaan dan kepuasaan raga dan batin saya?

Menyulam Pertanda
Paradoks. Manusia memiliki unsur kompleks tersebut. Saya membenci orang-orang kaya penuh kepalsuan tapi ketika disodorkan hidup sederhana saya harus berpikir ulang. Merasa bosan dengan semua jalan berat yang sudah saya lalui. Tapi saya pun tidak ingin menjadi agen-agen asing dengan slogan-slogan motivasi suksenya. Saya harus membiayai adik-adik saya, memberangkatkan mama naik haji, membangun rumah idaman. Tapi tidak ingin menjadi kaya tanpa berkarya dan hanya menjadi pegawai membosankan setiap hari. Saya tau harus kaya, dan karenanya saya meragukan tawaran itu. Intuisi saya hingga saat ini berbisik bahwa tawaran tersebut tidak bisa membuat saya menjadi…. Tapi……

Maka dalam proses menentukan memilih itu terlalu banyak tapi.
Di tengah itu saya mulai mengumpulkan pertanda-pertanda yang datang.  Ini lucu. Saya menjahit pertanda tersebut satu per-satu. Menyulamnya “semau” saya. Tentu. Ini sungguh-sungguh semau saya.  Tebang pilih apa yang harus saya percaya, baik atau buruknya pertanda tersebut, semau saya.
Tapi….

Tapi lagi.

Akhirnya saya merasa perlu bertanya kepada yang paling tinggi: Allah SWT melalui kitab suci yang diturunkannya.
               
Al-Qur’an itu saya genggam erat pada sepertiga malam. Dengan iman, malam itu saya shalat istikharah bermaksud bertanya pada Sang Pencipta akan sebuah pilihan yang ada di depan mata. Setelah shalat, saya membuka satu lembar kitab suci tersebut dengan mata tertutup tanda pasrah dengan ayat yang akan saya lihat. Saya membiarkan telunjuk menunjuk satu ayat. Jari itu bergerak tanpa tujuan, kemudian perlahan saya membuka mata. Saya membacanya: “Hendaklah tuntut Ilmu….”. Saat itu juga saya menterjemahkan ayat tersebut dengan arti “Menuntut ilmu = Kuliah”. Apakah itu pertanda saya harus mengambil tawaran kuliah tersebut?. Sungguh masih sebuah tanda tanya besar—

Namun tak sampai disitu tekad saya langsung bulat. Walau sudah bertanya pada yang Maha Kuasa tetap saja saya ragu. Ego saya menginginkannya {Siapa yang tak mau dijanjikan akan dapat kesempatan bersekolah lagi?), akan tetapi hati ini menolak. Dada itu masih penuh dengan gemuruh akan keraguan. Saya bertanya banyak hal pada orang tua dan teman-teman, tetapi tak juga menemukan jawaban yang pasti. Hanya saja saya merasa jalan tawaran ini begitu mulus seperti kulit wajah para sosialita. Terutamanya pendapat orang-orang terdekat saya yang hampir 80% mendukung saya untuk mengambil tawaran tersebut. Bahkan Mama menjadi tolak ukur bahwa pilihan ini akan menjadi benar.
Di titik itulah saya mengambil kesimpulan bahwa jalan ini mungkin sudah direncanakan oleh Tuhan. Maka itulah sepenggal proses mengapa akhirnya saya jatuh pada pilihan mengambil tawaran tersebut. Pekerjaan yang akhirnya saya pilih dengan setengah hati. Masih sering mengeluh setiap harinya. Dimulai dari bangun tidur hingga bersiap tidur dan tak lupa mimpi buruk. Ketakutan itu bagai ribuan atom yang menggelitik hatimu dan mengeliat di jantungmu.  Jeleknya lagi keluhan disetiap saya melakukan sesuatu pada setiap detiknya. Saya menjadi sangat cengeng!

Tetapi setengah hati tidaklah selalu buruk apabila kita sadar bahwa “kini” tetap harus dijalani.
Tentang masa kini saya selalu teringat ‘Karna’. Teater yang digarap Goenawan Mohammad itu mengajarkan bahwa kita hidup di masa kini, artinya masa lalu tidaklah boleh menjadi hambatan, dan masa depan masih panjang maka janganlah takut sebab yang harus kita jalani adalah yang kini, dan kini akan membangun yang depan. Oh maaf teman, namun apalah artinya motivasi-motivasi semua itu jika setengah hati saya selalu mengeluh.

Ketidakpercayaan itu membuat saya ingin mati.

Prasangka yang Membunuh mu, Bukan Realita
Awal 2013 saya berada dalam satu petak kostan. Dengan gaji di bawah UMR Jakarta, saya harus bertahan di setiap recehnya. Membeli momogi setidaknya membuat otak saya meleleh saat itu. Kesendirian di kosan itu yang membuat saya sering melamun. Macam orang bego. Terkadang saya ketakutan, terkadang ketawa sendiri. Kalau lagi sadar, saya pikir ini juga lucu.
Sangat lucu.
Ketika saya menyesal atas pilihan yang saya ambil, saya menyalahkan semua pertanda-pertanda itu dan menyalahkan…maaf, Tuhan. Mencaci mengapa harus mengikuti semua pertanda itu. Mengapa saya mengabaikan suara hati yang ragu karena suaranya sangat kecil dan akhirnya dihiraukan begitu saja. Haha ini lucu. Sebab seharusnya saya marah pada diri saya sendiri. Saya lah yang menyulam semua pertanda itu sesuka saya. Menerobos segala keraguan. Memaksakan percaya akan kemulusan-kemulusan pertanda itu.
Di sini akhirnya saya tersadar bahwa apa pun itu pertanda yang datang, tetaplah yang menentukan diri kita sendiri, kita yang merangkai dan menyulamnya. Betap bodohnya manusia sering menyalahkan nasib karna salah memilih jalan. Ketika susah menyalahkan agama dan Tuhan. Menyalahkan orang lain. Padahal apapun yang dijalani adalah apa yang diyakini dan dipilih.

Hukum Tarik
Dan lagi, ketika sampai pada lamunan yang dalam, saya teringat….
                Jauh sebelum masuk kuliah—yaitu sejak mulai suka menulis, saya sering membayangkan hidup saya sulit. Saya menginginkan fase-fase tersebut agar saya dapat berkarya. Tergelitik dalam lamunan itu. Teringat pada pertanyaan saya pada teman-teman di Formspring (http://formspring.me/tanyamutia). Setelah membaca tulisan Melancholia of Happines, saya langsung bertanya, “Lebih memilih hidup bahagia tetapi tak berkarya, atau tak bahagia tapi dapat berkarya?”. Kemudian ada seorang teman memberi pertanyaan yang sama kepada saya. Dan saya menjawabnya, “Sejak membaca cerita Laskar Pelangi, gatau kenapa gue pengen hidup gue nggak gampang. Gue pengen penuh dengan tantangan, dan mungkin dengan itu gue bisa berkarya”. Ini lucu. Seringkali saya memikirkan bahwa tahun-tahun seperempat krisis saya dimakan habis oleh kesulitan. Dan semua ini untuk satu impian: menjadi penulis yang kaya akan rasa di hidup ini.
Saya baru tersadar ketika perut saya lapar dalam kesendirian, bahwa selama ini ada yang berbisik tapi saya menghiraukannya. Ia adalah hati. Saat itu ia bilang bahwa jangan diambil, jangan berambisi, saya begitu takut jika saya menjadi perempuan yang angkuh jika saya menjalani hidup ini terlalu berat. Dan segala ketakutan itu justru membawa kepada satu keinginan saya.
Sore itu menjadi fase dimana saya nggak suka disebut pemikir. Kepala saya sakit. Saya ingin melakukannya dibawah alam pikiran, tapi karena saya telah menulis ini—saya tahu, saya telah menyadarinya. Semua ini karena teori. Saya sangat amat membenci teori.
               
                Siapa?
Saya tidak tahu siapa menentukan siapa. Takdir yang menentukan saya bertemu dengan Al-Qur’an. Atau diri ini yang bergerak karna keyakinan. Atau memang saya dan Al-Qur’an digerakkan oleh yang Maha Kuasa, atau oleh (apa yang kita sebut dengan) Semesta, atau oleh rahasia kehidupan yang sulit kita jawab.
Tapi dari situ saya menyadari bahwa manusia dan isi di dalamnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Aku dan prasangkaku. Aku dan kepercayaanku. Aku dan ketakutanku. Sungguh luar biasa. So, the biggest enemy is ourselves. Ia yang sering menghantui hati kita. Merajuk dan meragu.
Ketika saya menyadari ini, apa yang saya lihat ialah manusia dengan Tuhannya. Tuhannya ada di dalam dirinya. Maka benarlah bahwa pepatah bahwa orang yang telah mengenal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya. Memancarkannya ke dalam setiap tindakan. 

2013 merupakan tahun dimana aku mengenal diriku lebih dalam. Semua yang terjadi justru membuat ku mengerti perjalanan spiritual seperti apa yang kumau. Hidup seperti apa yang kumau.



[1] Nisa Rahmanti (Icha) adalah Penulis Novel Best Seller berjudulCintapuccino”

Joyland Festival 2013 Hari Pertama: Piknik Berkualitas Sajian Musisi Lokal



Sudah diprediksi. Memasuki pintu Timur Senayan jalan-jalan telah dipenuhi berbagai umbul-umbul acara yang berbeda. Macet di pintu masuk dan keluar akhirnya harus dilalui untuk sampai Senayan Swimming Stadium. Walau begitu, Taman Krida Loka telah dipenuhi penonton yang beberapa diantaranya duduk dan berdiri di pohon-pohon besar. Bau tanah dan rumput juga gempulan asap rokok yang sesekali menghampiri wajah membuat kita akan mengamini bahwa suasana ini terasa seperti piknik musik.

Menarik sekali melihat penonton menjinjing tikar bergantian dari Stage A ke Stage B, dan begitupun sebaliknya. Dengan setting piknik seperti ini, penonton yang berdiri dapat dengan jelas melihat pertunjukan di panggung yang berukuran rendah, sebab para penonton yang memiliki picnic set dapat duduk memenuhi muka panggung. Ketika berpindah dari Stage A ke Stage B, ataupun sebaliknya, pengunjung juga dapat menikmati makanan dan pemutaran film dengan tempat duduk nyaman yang telah disediakan.

Selepas istirahat maghrib, Stage A sudah dipenuhi penonton yang siap menyaksikan penampilan White Shoes and The Couples Company. Paduan kostum warna warni Nona Sari dan kawan-kawan, dipadu dengan cahaya panggung yang ‘pas’ mengikuti alunan musik—membuat crowd tak henti menggoyangkan tubuhnya, walau sekedar menganggukkan kepala. “Super Reuni” menjadi lagu pembuka yang dilanjutkan dengan urutan lagu “Pelan Tapi Pasti”, “Roman Ketiga” dan “Today Is Not Sunda”.



Penampilan mereka dijeda dengan cuplikan film “Ambisi (1973)” yang sudah sering ditampilkan di beberapa panggung. Inti film-nya bercerita mengenai demokrasi dan setelahnya dilanjutkan dengan lagu “Aksi Kucing” terasa menjadi seperti OST film tersebut adalah kombinasi yang epik. WSTACC melanjutkan penampilannya dengan membawakan lagu berurutan: “Kampus Kemarau”, “Selangkah”, “Top Star”, dan dua lagu terakhir yang diambil dari album Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yakni: “Lembe-Lembe” dan “Tam-Tam Buku. 

"Joyland adalah sebuah festival yang menjadi ajang bagi beberapa band untuk memperkenalkan karyanya"—jargon tersebut sepertinya dapat diamini oleh Banda Neira. Band duo yang muncul akhir 2012 ini mulai dikenal lewat media sosial. Diisi oleh Ananda Badudu dengan gitarnya dan Rara Sekar dengan xylpon-nya yang sederhana, mengundang penonton untuk segera duduk manis di Stage B dan menantikan pertunjukan mereka. Dibuka dengan lagu “Di Atas Kapal Kertas”, Banda Neira langsung ditemani crowd yang ikut bernyanyi. Begitupun lagu selanjutnya yang juga disambut dengan karaoke masal. “Kalo Subagio lihat, dia pasti senang,” ujar Ananda Badudu selepas menyanyikan lagu “Rindu” hasil musikalisasi puisi milik Subagio Sastrowardoyo.

(aaaaaaaaa akhirnyaaa nonton live Banda Neiraaa)




Untuk lagu ketiga, Rara memanggil Gardika Gigih yakni pemain pianika band Nosstress dari Bali yang menjadi salah satu band idola Banda Neira. Jadilah panggung tersebut kini diisi tiga orang menyanyikan lagu “Kita” milik Nosstress. Masih ada Gigih di panggung menemani Banda Neira untuk menyanyikan lagu ‘Hujan di Mimpi’ yang diambil dari album pertama mereka yaitu Berjalan Lebih Jauh. Pikir penonton, Banda Neira akan membawakan dua hingga tiga lagu lagi, tetapi lagu ‘Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa)’ menjadi penutup penampilan mereka. “We Want more” pinta penonton hanya dibalas senyuman Rara yang tampak malu-malu. Walau hanya membawakan empat lagu—dengan interaksi sederhana, membuat siapa saja baik yang baru pertama kali melihat atau mendengar lagu-lagu Banda Neira malam itu, sudah tentu akan semakin penasaran untuk mencari banyak tahu mengenai mereka. 

Beralih ke Stage A. Seorang laki-laki dengan sayap hitam telah duduk dan siap memainkan piano. Jika ada yang menduga ia akan memainkan lagu-lagu lembut dengan tempo sangat lambat, maka dugaan tersebut salah. Pada 2012, Luky Annash telah mewarnai Joyland dan tahun ini adalah kali kedua ia membawakan lagu-lagu liar dari debut albumnya 180° yang rilis pada 2011. Walau beberapa orang tak tahu tentang albumnya, sound yang bulat, permainan piano yang atraktif, dan suara yang liar—menarik banyak penonton untuk menyaksikan penampilannya. Terbukti dengan beberapa respon penonton yang seketika suka dengan suaranya yang khas walau baru pertama kali melihat penampilannya. 

Selepas Luky Annash, tiga band berturut-turut bergantian mengisi Stage A dan Stage B. Polka Wars. Band yang telah dikenal sejak 2010 ini memainkan sejumlah lagunya seperti: “Coraline”. Selanjutnya, ada Rock N Roll Mafia yang tampil di Stage A. Setelah membawakan tiga lagu, “Velvet Morning Air”, “Blackheart”, dan “Stuck and Reverse”, komposisi “Castillo Del Arena” secara tak terduga dibawakan bersama Ade Paloh dari Sore. Tiga lagu penutup penampilan RNRM dibawakan secara berurutan, “Oblivion”, “Never Give Up”, dan “Palpilate”. 

Berlanjut ke Stage B yang mengutus Dialog Dini Hari untuk menyanyikan lagu-lagu berbau alam malam itu. Dibuka dengan lagu “Kita dan Dunia”, crowd berkaraoke masal. Sebelum melanjutkan lagu kedua, Dadang (vokalis) membuka percakapan, “Tujuannya adalah satu: Kita berpijak di tanah dan rumput yang sama malam ini. Lagu ini adalah lagu untuk mereka yang tak menghormati perbedaan.” Lagu “Aku adalah Kamu” pun dibawakan. “Pelangi” dan “Jalan Dalam Diam” menjadi dua lagu penutup penampilan mereka. 

Belum habis sisa lagu yang dibawakan Dialog Dini Hari, Stage A sudah dipenuhi penonton yang rindu dengan band asal Bekasi ini yang belakangan jarang dijumpai di panggung-panggung musik Ibukota.

Teorinya, faktor “jarang manggung” mendapat nilai plus dari segi respon pecinta musik mereka, karena tentu mereka akan datang demi melihat penampilan band tersebut. Teorinya, faktor “jarang manggung” tersebut juga mendapat nilai plus karena pada umumnya, sebuah band akan menyiapkan secara eksklusif baik itu set panggung, sound, pemilihan lagu, dsb—demi menyuguhkan penampilan spesial. Lalu bagaimana dengan The Trees and The Wild (TTATW)?




Melihat penampilan mereka malam itu, rasanya teori tersebut benar. Mungkin tak ada karaoke masal atau tak ada pula penonton yang dapat menemani mereka bernyanyi, tapi ini beralasan sebab mereka telah menghipnotis penonton dengan lagu-lagu baru milik mereka. Tanpa sedikit pun mengajak penonton berinteraksi, TTATW tampaknya hanya ingin fokus menampilkan satu set lagu tanpa henti dengan lebih banyak memainkan instrument. Lagu berjudul “Empati Tamako”, “Concetrate”, “Saija”, dan”Our Roots” dijadikan satu set tanpa jeda. Di tengah pertunjukkan mereka, sejumlah kembang api menyala mewarnai langit Taman Krida Loka. Walau entah darimana kembang api itu berasal, yang jelas suara dan warnanya justru memadukan penampilan TTATW menjadi lebih indah. 

Tepuk tangan yang panjang menutup penampilan TTATW sekaligus acara Joyland Festival hari pertama. Secara keseluruhan acara ini—dengan konsep dan line up yang dijanjikan—terbilang sukses. Maka rasanya tepat untuk mengutip bio Twitter akun Joyland Festival (@Djaksphere): Sebuah jari tengah bagi para kepada industri musik yg terasa semakin tidak peduli akan karya berkualitas – Rolling Stone. 

Versi gigsplay bisa dilihat di sini http://gigsplay.com/GigReview-detail/joyland-festival-hari-pertama-piknik-berkualitas-sajian-musisi-lokal/ 


 Foto: Nuri Arunbiarti 


-Tania-

Senin, 12 Agustus 2013

Melancholic B1tch, semesta!

Review: Joni dan Susi go to AtAmerica

Sepertinya saya benar-benar akan meng-amini teori Einstein bahwa hukum semesta itu tarik menarik. Jika ingin sesuatu dan yakin akan mendapatkannya, maka kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sama keinginannya dengan kita, kemudian kita akan mendapat pertanda-pertanda, dan taraa teorinya berkata kita bisa mendapatkan yang kita inginkan. Saya tidak suka buku-buku motivasi klise, tapi untuk yang ini saya percaya pada teori itu. Setelah menulis di Tumblr tentang mengapa saya akhirnya berhalangan hadir datang ke Konser Menuju Semesta, saya kemudian diberi hadiah, didoakan agar dapat bertemu mereka secepatnya, menjadi senang dan lalu selang beberapa minggu saya tahu bahwa Melbi akan konser di AtAmerica, Pasific Place Jakarta. Pertanda apa ini?
Sungguh karena ini tak saya sangka, bahwa Konser Menuju Semesta yang diadakan di Bandung 31 Mei lalu bukanlah konser terakhir Melbi di tahun 2013. Pelakunya adalah Muhammad Asranur yang lebih dikenal melalui akun twitter-nya @cantsaynotohope. Hasil dari obrolan bersamanya selepas konser, Asra bercerita awalnya hanya iseng bertanya pada Itbo (Omuniuum) kapan Ugo balik ke New York? Asra kemudian mencoba menghubungi Melbi dan beruntungnya, hey fans Melbi Jakarta! karena mereka meng-iya-kan--walau Yennu Ariendra berhalangan ikut main karena harus berangkat ke Jepang.
           Mengapa di AtAmerica? Angle-nya diambil dari AtAmerica sebagai pusat kebudayaan terbesar Amerika pertama di dunia yang mempunyai tujuan untuk mempromosikan budaya Amerika. Hal itulah yang berhubungan dengan Ugoran Prasad (Vokalis) sebagai satu-satunya orang Indonesia yang mempunyai gelar Master Teater Study--dan kini Ugo sedang mengambil S3 di New York. Selain angle yang satu itu, masih banyak angle lainnya, seperti: Sekumpulan Joni dan Susi di Jakarta telah menanti lama kehadiran Melbi; Melbi terakhir manggung di Jakarta (Salihara) dengan HTM 50.000 dan sold out; selain itu adanya pengaruh musik Amerika pada beberapa lagu Melbi memperlengkap alasan AtAmerica bersedia  mengundang mereka.
               
                Sebelumnya, karena Menuju Semesta

                Sebenarnya sebelum tahu kabar Melbi akan konser di AtAmerica, saya sudah sangat terhibur dengan Bootleg Konser Menuju Semesta yang di upload Daffa Andika di akun soundcloudnya. Saat itu saya langsung mengunduh dan mendengarnya setiap hari, sepanjang hari, dan masih seperti itu hingga saya menulis ini. Setiap waktu bangun tidur, waktu santai, di jalan, sedang sibuk kerja, hingga penghantar tidur. Saya kecanduan sampai-sampai hafal seluruh isi naskah yang diceritakan Ugo di sana. Walau tidak hadir, sekali lagi, saya merasakan aura intimnya konser Menuju Semesta.
               "Aku punya cerita...." Jantung saya berdebar setiap kali memencet play dan langsung mendengar suara Ugo itu menjadi penghantar lagu Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco. Imajinasi saya terbang bebas ke sebuah jembatan berkabut setiap kali mendengarnya, tetapi anehnya pemandangan sampan-sampan di Venesia lebih menguasai imajinasi saya itu. Saya akhirnya kebiasaan mencepatkan seek-nya langsung ke bagian narasi ini, "Joni dan Susi punya mimpi, mimpi jalan...jalann..." Itu adalah narasi yang sangat-sangat saya suka. Saya suka ketika Ugoran membiarkan crowd ikut melantunkan lagu Bulan Madu pada bagian ”Berdayung sampan kita....di Venesiaa....." Gila sampai saya juga hafal bagian Ugo membuat crowd tertawa sebelum memulai lagu Mars Penyembah Berhala. Saya juga tahu persis bagaimana Ugo menutup sesi pertama dari konser itu dengan narasi, "Susi tidur dulu yaa...Joni menunggunya...".
                Saat video-video Konser Menuju Semesta yang di-upload oleh Omuniuum di channel youtube mereka telah bisa dinikmati, saya semakin girang dan semakin hafal naskahnya, haha gila! Lagu romantis favorit saya, yaitu Propaganda Dinding dan Apel Adam yang tidak terekam di bootleg Daffa--membikin saya penasaran sekali. Sebenarnya satu bagian yang menjadi favorit sejak dengar di bootleg adalah saat Ugo mengajak satu penonton untuk menyanyikan Distopia bersama-sama. Saya ingin seperti perempuan ituuuu... saya mau seperti Gita bernyanyi bersama Ugo!

                Naskah Balada

Sabtu itu (13/7/13), saya beruntung bisa berada diantara sekumpulan orang—yang saya sendiri lebih suka menyebutnya Sekawanan Joni dan Susi—yaitu hasil pinakan Joni dan Susi yang kini semakin banyak orang ingin mendengar balada-nya dari pendongeng Melancholic Bitch khususnya sang narator--Ugoran Prasad. Namun entah mengapa Jakarta tak henti dihadang hujan sedari siang. Banyak teman saya dan orang-orang lain yang akhirnya tidak bisa hadir. Walau begitu, AtAmerica selepas buka puasa sudah lumayan sesak.




Sebalnya, malam itu saat Melbi telah membawakan satu hingga empat lagu, orang-orang masih banyak saja yang berlalu-lalang, keluar masuk dari pintu yang berada di samping venue. Itu membuat saya (penonton) merasa terganggu. Namun apalah, saya masih menikmati tiap lagu dengan semua narasi yang--diam-diam--sudah saya hafal di luar kepala. Ah! hal itu kebanyakan minusnya sih, karena kenapa saya jadi meng-compare terus-terusan antara pertunjukkan mereka di Menuju Semesta dan AtAmerica ya? Mungkin akan begini jadinya jika melihat mereka terlalu sering? Mungkin karena saya telah jatuh cinta dengan Menuju Semesta lewat bootleg-nya Daffa? Atau itu mungkin sebabnya benar kata Arham, bahwa diam-diam mereka mungkin sengaja menyimpan banyak rindu untuk para fans-nya. Karena jika kita terlalu sering meliat pertunjukkan mereka secara langsung, kita mungkin akan bosan?

Tapi ada yang plus dari malam itu. Senang sekali untuk pertama kali melihat live Melbi seperti dapat bonus melihat mereka membawakan lagu milik band lain. Sesuai perjanjian, Melbi harus membawakan dua lagu band Amerika yang mempengaruhi lagu-lagu mereka. Lagi, Ugo membuat narasi sedikit, "Ketika Susi ditanya kenapa dia harus pergi? Susi bilang, dia pergi karena dia tidak ingin menjadi seorang perempuan tua yang tertinggal di kota kecilnya dan berdiri di belakang mesin kasir." Ah! saya suka sekali narasinya itu :) Kemudian lagu milik Pearl Jam berjudul Elderly Woman Behind The Counter dibawakan dengan syahdu.

Setelah lagu itu dibawakan, banyak penonton tampaknya tak memperhatikan ucapan Ugo. "Biasanya kita membawakan lagu ini bersama Silir, siapa yang mau menyanyikannya bersama..." Jantung saya seketika berdegup, tangan saya langsung terasa dingin, saya melihat sekitar tidak ada yang mengangkat tangan. Gue bakal jadi Gita kedua nggak ya?

"Ayo siapa yang mau maju, nanti menghabiskan waktu saja..." Saat Ugo berkata seperti itu, maka lalu dengan percaya diri langsung saja saya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Oh, semesta! 

“Nah...ayo ayo cepat sini...” Ujar Ugo mengajak saya naik ke panggung. Saya pun naik ke panggung dengan nafas yang sulit diatur.
Ugo        : Siapa namanya?
Saya       : Tania
Ugo        : Selamat malam Tania
Saya       : Malam
Sampai disitu saja, jantung saya rasanya mau copot.
Ugo        : Sudah tau mau menyanyikan lagu apa?
Saya       : Sudah (merasa sudah mengembangkan senyum, padahal pucat)

Ya! Distopia.

(Foto oleh Reza Pradipto)

Tentang lagu Distopia. Lagu yang paling ceria menurut saya di album BJS. Suara Silir yang berwarna musik pantura sangat menggoda untuk bergoyang. Ganjil rasanya apabila mendengar lagu itu tetapi tidak ikut bernanyi. Sekalipun mendengarkannya sendiri di kamar, saya pasti akan ikut melantunkan..."bersama-sama kita...bersama-sama selamanya...bersama...bersama..."
Ugo, Melbi, atau penonton lainnya mungkin kecewa karena suara saya justru mengganggu, dan bisa jadi kalo saya penonton ingin rasanya merajam penonton bernama Tania hahaha, anyway, maaf ya teman-teman, mungkin kalian  sangat sebal karena Distopia yang ditunggu-tunggu tidak sesuai ekspektasi :)



(Foto oleh Raras Prawitaningrum)

Ahya..Pernah (sampai saat ini sih) suka sekali dengan Cholil Mahmud ERK karena ia bernyanyi dengan sangat menghayati. Sesekali matanya ditutup tanda ia menikmati. Maka malam itu, resmilah, walau Ugo tidak bisa membuat saya meleleh karena roko-nya (dia keren banget kalo merokok), tetapi malam itu saya malah lebih meleleh karena ia nyatanya sangat ramah. Ugo mengajak bernyanyi tanpa meninggalkan saya mengatur lagu sendiri. Ia seperti membuat saya tenang dengan bernyanyi sambil menatap (ge er!), mengajak bernyanyi pelan-pelan. Dan ah.... Deskripsinya tidak akan selesai, karena saking senangnya saya di atas sana. Beruntung sekaligus merasa bersalah.
Ruangan baru terasa menyala ketika Melbi membawakan lagu Mars Penyembah Berhala. Untuk yang ini (maaf kalo meng-compare lagi), sekali lagi untuk yang ini, saya suka sekali Ugo seperti melahap sisi-sisi panggung, ia lari kesana kemari, hingga tiduran dengan nafas kelelahan. Rasa-rasanya saya ingin berdiri dan ikut bernyanyi dengan lantang! Ikut mengutuk kotak 14 inchi itu! Saya rasa Mars Penyembah Berhala disini lebih bagus dibandingkan dengan Menuju Semesta, tetapi sayang crowd-nya tidak seagresif di Bandung. Atau mungkin, ya itu tadi, karena setting venue mengharuskan para penonton duduk.
Ketika Ugo melihat jam yang terikat di tangannya, saya sudah muram lantaran itu pasti tanda sedikit lagi mereka harus mengakhiri pertunjukkannya. Benar saja, lagu Menara menjadi penutup aksi mereka malam itu. Mereka meninggalkan panggung  dan disambut tepuk tangan yang meriah. Sementara hati para penonton tak rela dan beberapa masih meneriakkan we want more. Oh sungguh, 1 jam 40 menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk melihat mereka.

Setiap penyimak pertunjukkan Melbi yang mereviewnya sudahlah pasti terbawa oleh cerita sang pendongeng, itu benar karena saat melihat live mereka, sepasang tiap mata akan terhipnotis oleh kata-kata Ugo. Itulah mengapa Raka mereview-nya dengan menulis bahwa Melbi bukanlah sekedar band, tapi mereka adalah ambang. Naskah yang di susun menjadi penghantar BJS membuat setiap penonton terbawa akan kisah cinta Joni dan Susi, terbawa ke Venesia, bersama-sama di kereta, hingga dibuatnya kita marah karena Joni dibanting ke aspal, lalu kita harus ikut pasrah karena percintaan mereka berakhir pada Noktah Pada kerumunan. Dan lagi, yang telah kita tahu, lagu-lagu dalam album Anamnesis mereka kini ikut dibalut ke dalam panggung mereka. "Eksplorasi" begitu tersebut di harian Kompas. Mereka mengkombinasi itu semua dengan sangat keren!
Apakah panggung menjadi tempat Melbi melakukan experiment? Kalo iya, saya sangat menantikan naskah Balada Joni dan Susi yang selanjutnya dengan narasi yang berbeda. Namun apabila naskah itu adalah memang kekal menjadi naskah penghantar Balada Joni dan Susi disetiap panggung mereka, saya memilih untuk tidak sering-sering lihat mereka. Agar rindunya lebih kental, supaya saya tidak bosan, supaya Balada Joni dan Susi yang saya dengar akan selalu menjadi yang istimewa, saya ingin mengabadikan balada tersebut di memori terbaik saya.

Dibuang sayang

Selepas konser, saya masih tidak rela meninggalkan pusat kebudayaan terbesar Amerika itu. Saya akhirnya ngobrol sedikit dengan Mas Asra. Sungguh baiknya ia, yang kemudian mengabadikan saya bersama Melbi lewat kamera. Saya memecah hening dengan bertanya, "Kapan balik Mas, Ugo?" . "Oh Insya Allah Desember sih" Jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya Ugoran Prasad nyata di depan mata! :D






Ngomong-ngomong, bocoran Ugo setiap Desember akan pulang ke Indonesia, menimbulkan tanya, "Desember 2013 mau undang lagi ga mas?" tanya saya pada Mas Asra.
Jawaban Asra, "Tergantung sih, kali aja kalo AtAmerica mau fasilitasi lagi, ayo banget undang mereka lagi!" Ujarnya sembari tertawa. Untuk kalian yang berhalangan hadir ke AtAmerica malam itu, semoga akhirnya kalian bisa bertemu sekumpulan Joni dan Susi lainnya pada Desember 2013 mendatang  :))


Kamis, 28 Maret 2013

3rd Music Gallery: Bertualang Dengan Mesin Waktu

If there is a “time machine”, will be where you want to go?
Tidak perlu tergesa untuk menjawab pertanyaan di atas. Apalagi dengan memberikan jawaban melankolis ingin memutar waktu karena kerinduan akan kenangan manis saat jaman cinta monyet, cinta putih abu-abu, atau cinta-cinta lainnya yang ingin diulang kembali. Kami sendiri punya cerita panjang mengapa memilih untuk balik pada masa-masa seperti ini jika kami punya mesin waktu. Melalui 3rd Music Gallery yang dibuat oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tema Time Machine bermaksud membawa kita bernostalgia pada perjalanan musik Indonesia. Sehingga tidak hanya suguhan yang menarik, namun juga memberi wawasan kepada pengunjung.
Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, Music Gallery dibagi ke dalam dua stage yaitu Demajors Stage dan Jansport Stage. Tepat pukul 16.30, Demajors Stage sudah dibuka oleh sejumlah band seperti Sketsa, Speak Easy, dan Tristan yang mencoba mencuri perhatian pengunjung. Sound yang terdengar kurang apik membuat sebagian pengunjung kurang tertarik untuk merapat ke muka panggung. Menjelang pukul enam sore, Annex Building mulai dipadati pengunjung dan pada jam yang sama, Jansport Stage akhirnya dibuka oleh pengisi acara pertama yaitu Plainlied, yang kemudian dilanjutkan oleh Winter Issue dan Polkawars. Tentu atas faktor susunan pengisi acara, Jansport Stage mendominasi pengunjung malam itu. Namun sayang sekali, persis seperti di bawah, di dalam pun sound terengar kurang apik. Vokal pada Polkawars terasa tenggelam sementara sound drum terlalu kuat, dan gitar sendiri baru benar-benar “muncul” di dua lagu terakhir.
Jelang pukul 19.00, si “mesin waktu” membawa kita ke dalam musik dengan warna garage rock modernmelalui duo kakak–adik dari Bekasi—The Experience Brothers. Beruntunglah, dari awal lagu dimainkansound terasa bulat. Deretan lagu berjudul “Heart Painted Black”, “Young Men” dan berakhir pada lagu “Bonzo” sangat dinikmati oleh penonton yang mulai berdiri menyaksikan permainan gitar Bram yang khas—sampai tiba-tiba setelah lagu tersebut selesai dibawakan, beberapa perempuan berteriak histeris. Ada apa? Rupa-rupanya kejutan pertama telah dimulai. Iga Massardi masuk ke panggung membawa gitar yang dipermanis dengan senyum kecil-nya. Lagu “She’s Alraight” milik The Experience Brothers dibawakan tanpa aransemen yang banyak, namun tentu berbeda karena Iga menambah kaya instrumen pada lagu tersebut. Kejutan belum selesai, The Experience Brother plus Iga medley lagu milik Black Sabbath “Iron Man”–Nirvana “Smells Like Teen Spirit” dan dilanjutkan lagu milik The White Strips “Seven Nation Army”. Bayangkan, mendengar judul lagu-nya saja sudah merinding kita dibuatnya, apalagi berada disana mendengar langsung—jelas membuat kaum adam tidak tahan untuk menggoyangkan tubuhnya. Kejutan itu akhirnya membuat suasana Upper Room seketika terasa panas. Penonton yang duduk sudut-sudut Upper Room serempak berdiri menanti kejutan lainnya.


Setelah berloncat-loncat ria, penonton bisa sedikit beristirahat lewat performa Payung Teduh. Sayang sekali, ketika lagu pertama “Untuk Perempuan yang Sedang Dipelukan” dibawakan, suara Is (vokal) nyaris hilang tak terdengar karena sound yang tenggelam. Namun beruntunglah setelah itu, susunan lagu “Cerita Tentang Gunung dan Laut”, “Angin Pujaan Hujan”, “Berdua Saja” dan “Nurlela”, sound kembali jelas. Berhenti disitu sejenak, karena kejutan kedua dimulai. Panggung Payung Teduh boleh jadi sudah ramai oleh tim backing vocal, tetapi ternyata ada satu orang lagi yang naik ke panggung bergabung bersama mereka. Ya! Ade Paloh dari Sore berjalan pelan membawa gitar-nya masuk ke dalam panggung, penonton kemudian kembali histeris senang. Tanpa banyak kata, mereka membawakan lagu “Menuju Senja”, lagu yang katanya didaulat Payung Teduh untuk Sore tersebut seperti mengajak Upper Room melihat “dua sore”. Payung Teduh kemudian menutup performanya melalui lagu “Resah”.
Akhirnya…. Ini yang ditunggu-tunggu dari sang mesin waktu untuk mengajak kita bernostalgia dengan band yang kini jarang sekali muncul di dunia pertunjukan musik lokal. Siapa lagi kalau bukan The Adams. Band yang sering mengisi pentas seni jaman dahulu membuka panggung-nya lewat lagu “Selamat Pagi Juwita”. Penonton kemudian berkaraoke masal menyanyikan lagu “Waiting”, “Kau Disana”, “Halo Beni”, “Berwisata”, dan tentu ketika lagu “Hanya Kau” dimainkan, serentak penonton yang didominasi oleh anak muda ini ikut bernyanyi terbawa nostalgia suasana putih abu-abu. Setelah “Glorious Time” dengan aransemen yang baru dibawakan, kejutan ketiga dengan cuma-cuma langsung diberikan. Ario memangil Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) ke atas panggung, dan lagi penonton histeris. Seperti menurut The Adams dalam akun twitter-nya, adalah suatu yang jitu mengajak Cholil utuk menyanyikan lagu-nya. Lebih lagi, lagu “Konservatif” yang menjadi identitas The Adams yang dibawakan—tentu momen bersama Cholil tersebut adalah bagian favorit penonton yang membuat banyak orang menyesal tidak datang ke acara ini.
Rumahsakit tidak punya kejutan seperti tiga band sebelumnya. Namun siapa yang peduli? Bagi semua, melihat Rumahsakit di atas panggung adalah obat kerinduan yang sempurnaSemua bersama menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Susunan lagu malam itu masih datang dari album pertama hingga album baru mereka. Lagu “Datang”, “Anomali” “Kuning”, “Bernyanyi Menunggu”, “Sirna” dan “Sakit Sendiri”. Rumahsakit juga mengajak semua bernostalgia melalui lagu “Pop Kinetik”, dan “Hilang” yang sekaligus menjadi lagu penutup panggung mereka.
Seperti Rumahsakit, Efek Rumah Kaca tidak membawa kejutan untuk penonton. Namun bagi mereka yang belum melihat bentuk ambigu dari Efek Rumah Kaca, malam itu jadi bayarannya. Senandung dari album kedua mereka yaitu “Kamar Gelap” menjadi pembuka, yang langsung dilanjutkan dengan lagu “Aku dan Kau Menuju Ruang Hampa”. Lagu “Menjadi Indonesia” dan “Jangan Bakar Buku” malam itu dibawakan dengan format Pandai Besi. Tak ada karaoke masal, yang ada hanya penonton yang terpaku menikmati performa mereka. Sementara itu, lagu yang tidak lain dan tak bukan yaitu “Desember” dengan format Efek Rumah Kaca menjadi lagu penutup performa mereka sekaligus menutup seluruh rangkaian 3rd Music Gallery malam tersebut.

Secara keseluruhan Upper Room sungguh seperti digempur oleh kenangan-kenangan si mesin waktu. Kejutan-kejutan tersebut menurut panitia tidak diminta dengan sengaja oleh mereka, karena menurut band-band pengisi acara, ini merupakan wadah yang pas untuk mengekspresikannya. Mereka berhasil membawa kita pada suguhan yang amat luar biasa dan masih berbekas—entah sampai kapan. Pertunjukan musik lokal dengan susunan pengisi acara yang layak dicontoh, karena memang harus diakui—kita merindukan band macam The Adams dan Rumahsakit—yang jarang kita temui di gigs ibu kota.
Namun yang harus diperhatikan ialah dari segi tata suara yang kurang, karena hal tersebut merupakan suatu yang vital. Juga apabila diamati, Music Gallery tahun lalu lebih dipadati oleh pengunjung dibandingkan tahun ini. Tertariknya masa ke kota kembang atau  mungkin ke lapangan sepak bola hari itu menjadi spekulasi sebagian pengunjung. Namun, siapa yang peduli dengan penuh atau tidaknya Upper Room malam itu? Semua sudah larut akan kejutan-kejutan dari atas panggung si “mesin waktu”dan bagi mereka yang tidak datang mungkin hanya sebuah sesalan yang ada.
Jadi, apabila ditanya ingin pergi kemana jika punya mesin waktu? Jawabannya boleh jadi; datang ke 3rd Music Gallery!

Foto oleh Aloysius Nitia