Senin, 12 Agustus 2013

Melancholic B1tch, semesta!

Review: Joni dan Susi go to AtAmerica

Sepertinya saya benar-benar akan meng-amini teori Einstein bahwa hukum semesta itu tarik menarik. Jika ingin sesuatu dan yakin akan mendapatkannya, maka kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sama keinginannya dengan kita, kemudian kita akan mendapat pertanda-pertanda, dan taraa teorinya berkata kita bisa mendapatkan yang kita inginkan. Saya tidak suka buku-buku motivasi klise, tapi untuk yang ini saya percaya pada teori itu. Setelah menulis di Tumblr tentang mengapa saya akhirnya berhalangan hadir datang ke Konser Menuju Semesta, saya kemudian diberi hadiah, didoakan agar dapat bertemu mereka secepatnya, menjadi senang dan lalu selang beberapa minggu saya tahu bahwa Melbi akan konser di AtAmerica, Pasific Place Jakarta. Pertanda apa ini?
Sungguh karena ini tak saya sangka, bahwa Konser Menuju Semesta yang diadakan di Bandung 31 Mei lalu bukanlah konser terakhir Melbi di tahun 2013. Pelakunya adalah Muhammad Asranur yang lebih dikenal melalui akun twitter-nya @cantsaynotohope. Hasil dari obrolan bersamanya selepas konser, Asra bercerita awalnya hanya iseng bertanya pada Itbo (Omuniuum) kapan Ugo balik ke New York? Asra kemudian mencoba menghubungi Melbi dan beruntungnya, hey fans Melbi Jakarta! karena mereka meng-iya-kan--walau Yennu Ariendra berhalangan ikut main karena harus berangkat ke Jepang.
           Mengapa di AtAmerica? Angle-nya diambil dari AtAmerica sebagai pusat kebudayaan terbesar Amerika pertama di dunia yang mempunyai tujuan untuk mempromosikan budaya Amerika. Hal itulah yang berhubungan dengan Ugoran Prasad (Vokalis) sebagai satu-satunya orang Indonesia yang mempunyai gelar Master Teater Study--dan kini Ugo sedang mengambil S3 di New York. Selain angle yang satu itu, masih banyak angle lainnya, seperti: Sekumpulan Joni dan Susi di Jakarta telah menanti lama kehadiran Melbi; Melbi terakhir manggung di Jakarta (Salihara) dengan HTM 50.000 dan sold out; selain itu adanya pengaruh musik Amerika pada beberapa lagu Melbi memperlengkap alasan AtAmerica bersedia  mengundang mereka.
               
                Sebelumnya, karena Menuju Semesta

                Sebenarnya sebelum tahu kabar Melbi akan konser di AtAmerica, saya sudah sangat terhibur dengan Bootleg Konser Menuju Semesta yang di upload Daffa Andika di akun soundcloudnya. Saat itu saya langsung mengunduh dan mendengarnya setiap hari, sepanjang hari, dan masih seperti itu hingga saya menulis ini. Setiap waktu bangun tidur, waktu santai, di jalan, sedang sibuk kerja, hingga penghantar tidur. Saya kecanduan sampai-sampai hafal seluruh isi naskah yang diceritakan Ugo di sana. Walau tidak hadir, sekali lagi, saya merasakan aura intimnya konser Menuju Semesta.
               "Aku punya cerita...." Jantung saya berdebar setiap kali memencet play dan langsung mendengar suara Ugo itu menjadi penghantar lagu Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco. Imajinasi saya terbang bebas ke sebuah jembatan berkabut setiap kali mendengarnya, tetapi anehnya pemandangan sampan-sampan di Venesia lebih menguasai imajinasi saya itu. Saya akhirnya kebiasaan mencepatkan seek-nya langsung ke bagian narasi ini, "Joni dan Susi punya mimpi, mimpi jalan...jalann..." Itu adalah narasi yang sangat-sangat saya suka. Saya suka ketika Ugoran membiarkan crowd ikut melantunkan lagu Bulan Madu pada bagian ”Berdayung sampan kita....di Venesiaa....." Gila sampai saya juga hafal bagian Ugo membuat crowd tertawa sebelum memulai lagu Mars Penyembah Berhala. Saya juga tahu persis bagaimana Ugo menutup sesi pertama dari konser itu dengan narasi, "Susi tidur dulu yaa...Joni menunggunya...".
                Saat video-video Konser Menuju Semesta yang di-upload oleh Omuniuum di channel youtube mereka telah bisa dinikmati, saya semakin girang dan semakin hafal naskahnya, haha gila! Lagu romantis favorit saya, yaitu Propaganda Dinding dan Apel Adam yang tidak terekam di bootleg Daffa--membikin saya penasaran sekali. Sebenarnya satu bagian yang menjadi favorit sejak dengar di bootleg adalah saat Ugo mengajak satu penonton untuk menyanyikan Distopia bersama-sama. Saya ingin seperti perempuan ituuuu... saya mau seperti Gita bernyanyi bersama Ugo!

                Naskah Balada

Sabtu itu (13/7/13), saya beruntung bisa berada diantara sekumpulan orang—yang saya sendiri lebih suka menyebutnya Sekawanan Joni dan Susi—yaitu hasil pinakan Joni dan Susi yang kini semakin banyak orang ingin mendengar balada-nya dari pendongeng Melancholic Bitch khususnya sang narator--Ugoran Prasad. Namun entah mengapa Jakarta tak henti dihadang hujan sedari siang. Banyak teman saya dan orang-orang lain yang akhirnya tidak bisa hadir. Walau begitu, AtAmerica selepas buka puasa sudah lumayan sesak.




Sebalnya, malam itu saat Melbi telah membawakan satu hingga empat lagu, orang-orang masih banyak saja yang berlalu-lalang, keluar masuk dari pintu yang berada di samping venue. Itu membuat saya (penonton) merasa terganggu. Namun apalah, saya masih menikmati tiap lagu dengan semua narasi yang--diam-diam--sudah saya hafal di luar kepala. Ah! hal itu kebanyakan minusnya sih, karena kenapa saya jadi meng-compare terus-terusan antara pertunjukkan mereka di Menuju Semesta dan AtAmerica ya? Mungkin akan begini jadinya jika melihat mereka terlalu sering? Mungkin karena saya telah jatuh cinta dengan Menuju Semesta lewat bootleg-nya Daffa? Atau itu mungkin sebabnya benar kata Arham, bahwa diam-diam mereka mungkin sengaja menyimpan banyak rindu untuk para fans-nya. Karena jika kita terlalu sering meliat pertunjukkan mereka secara langsung, kita mungkin akan bosan?

Tapi ada yang plus dari malam itu. Senang sekali untuk pertama kali melihat live Melbi seperti dapat bonus melihat mereka membawakan lagu milik band lain. Sesuai perjanjian, Melbi harus membawakan dua lagu band Amerika yang mempengaruhi lagu-lagu mereka. Lagi, Ugo membuat narasi sedikit, "Ketika Susi ditanya kenapa dia harus pergi? Susi bilang, dia pergi karena dia tidak ingin menjadi seorang perempuan tua yang tertinggal di kota kecilnya dan berdiri di belakang mesin kasir." Ah! saya suka sekali narasinya itu :) Kemudian lagu milik Pearl Jam berjudul Elderly Woman Behind The Counter dibawakan dengan syahdu.

Setelah lagu itu dibawakan, banyak penonton tampaknya tak memperhatikan ucapan Ugo. "Biasanya kita membawakan lagu ini bersama Silir, siapa yang mau menyanyikannya bersama..." Jantung saya seketika berdegup, tangan saya langsung terasa dingin, saya melihat sekitar tidak ada yang mengangkat tangan. Gue bakal jadi Gita kedua nggak ya?

"Ayo siapa yang mau maju, nanti menghabiskan waktu saja..." Saat Ugo berkata seperti itu, maka lalu dengan percaya diri langsung saja saya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Oh, semesta! 

“Nah...ayo ayo cepat sini...” Ujar Ugo mengajak saya naik ke panggung. Saya pun naik ke panggung dengan nafas yang sulit diatur.
Ugo        : Siapa namanya?
Saya       : Tania
Ugo        : Selamat malam Tania
Saya       : Malam
Sampai disitu saja, jantung saya rasanya mau copot.
Ugo        : Sudah tau mau menyanyikan lagu apa?
Saya       : Sudah (merasa sudah mengembangkan senyum, padahal pucat)

Ya! Distopia.

(Foto oleh Reza Pradipto)

Tentang lagu Distopia. Lagu yang paling ceria menurut saya di album BJS. Suara Silir yang berwarna musik pantura sangat menggoda untuk bergoyang. Ganjil rasanya apabila mendengar lagu itu tetapi tidak ikut bernanyi. Sekalipun mendengarkannya sendiri di kamar, saya pasti akan ikut melantunkan..."bersama-sama kita...bersama-sama selamanya...bersama...bersama..."
Ugo, Melbi, atau penonton lainnya mungkin kecewa karena suara saya justru mengganggu, dan bisa jadi kalo saya penonton ingin rasanya merajam penonton bernama Tania hahaha, anyway, maaf ya teman-teman, mungkin kalian  sangat sebal karena Distopia yang ditunggu-tunggu tidak sesuai ekspektasi :)



(Foto oleh Raras Prawitaningrum)

Ahya..Pernah (sampai saat ini sih) suka sekali dengan Cholil Mahmud ERK karena ia bernyanyi dengan sangat menghayati. Sesekali matanya ditutup tanda ia menikmati. Maka malam itu, resmilah, walau Ugo tidak bisa membuat saya meleleh karena roko-nya (dia keren banget kalo merokok), tetapi malam itu saya malah lebih meleleh karena ia nyatanya sangat ramah. Ugo mengajak bernyanyi tanpa meninggalkan saya mengatur lagu sendiri. Ia seperti membuat saya tenang dengan bernyanyi sambil menatap (ge er!), mengajak bernyanyi pelan-pelan. Dan ah.... Deskripsinya tidak akan selesai, karena saking senangnya saya di atas sana. Beruntung sekaligus merasa bersalah.
Ruangan baru terasa menyala ketika Melbi membawakan lagu Mars Penyembah Berhala. Untuk yang ini (maaf kalo meng-compare lagi), sekali lagi untuk yang ini, saya suka sekali Ugo seperti melahap sisi-sisi panggung, ia lari kesana kemari, hingga tiduran dengan nafas kelelahan. Rasa-rasanya saya ingin berdiri dan ikut bernyanyi dengan lantang! Ikut mengutuk kotak 14 inchi itu! Saya rasa Mars Penyembah Berhala disini lebih bagus dibandingkan dengan Menuju Semesta, tetapi sayang crowd-nya tidak seagresif di Bandung. Atau mungkin, ya itu tadi, karena setting venue mengharuskan para penonton duduk.
Ketika Ugo melihat jam yang terikat di tangannya, saya sudah muram lantaran itu pasti tanda sedikit lagi mereka harus mengakhiri pertunjukkannya. Benar saja, lagu Menara menjadi penutup aksi mereka malam itu. Mereka meninggalkan panggung  dan disambut tepuk tangan yang meriah. Sementara hati para penonton tak rela dan beberapa masih meneriakkan we want more. Oh sungguh, 1 jam 40 menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk melihat mereka.

Setiap penyimak pertunjukkan Melbi yang mereviewnya sudahlah pasti terbawa oleh cerita sang pendongeng, itu benar karena saat melihat live mereka, sepasang tiap mata akan terhipnotis oleh kata-kata Ugo. Itulah mengapa Raka mereview-nya dengan menulis bahwa Melbi bukanlah sekedar band, tapi mereka adalah ambang. Naskah yang di susun menjadi penghantar BJS membuat setiap penonton terbawa akan kisah cinta Joni dan Susi, terbawa ke Venesia, bersama-sama di kereta, hingga dibuatnya kita marah karena Joni dibanting ke aspal, lalu kita harus ikut pasrah karena percintaan mereka berakhir pada Noktah Pada kerumunan. Dan lagi, yang telah kita tahu, lagu-lagu dalam album Anamnesis mereka kini ikut dibalut ke dalam panggung mereka. "Eksplorasi" begitu tersebut di harian Kompas. Mereka mengkombinasi itu semua dengan sangat keren!
Apakah panggung menjadi tempat Melbi melakukan experiment? Kalo iya, saya sangat menantikan naskah Balada Joni dan Susi yang selanjutnya dengan narasi yang berbeda. Namun apabila naskah itu adalah memang kekal menjadi naskah penghantar Balada Joni dan Susi disetiap panggung mereka, saya memilih untuk tidak sering-sering lihat mereka. Agar rindunya lebih kental, supaya saya tidak bosan, supaya Balada Joni dan Susi yang saya dengar akan selalu menjadi yang istimewa, saya ingin mengabadikan balada tersebut di memori terbaik saya.

Dibuang sayang

Selepas konser, saya masih tidak rela meninggalkan pusat kebudayaan terbesar Amerika itu. Saya akhirnya ngobrol sedikit dengan Mas Asra. Sungguh baiknya ia, yang kemudian mengabadikan saya bersama Melbi lewat kamera. Saya memecah hening dengan bertanya, "Kapan balik Mas, Ugo?" . "Oh Insya Allah Desember sih" Jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya Ugoran Prasad nyata di depan mata! :D






Ngomong-ngomong, bocoran Ugo setiap Desember akan pulang ke Indonesia, menimbulkan tanya, "Desember 2013 mau undang lagi ga mas?" tanya saya pada Mas Asra.
Jawaban Asra, "Tergantung sih, kali aja kalo AtAmerica mau fasilitasi lagi, ayo banget undang mereka lagi!" Ujarnya sembari tertawa. Untuk kalian yang berhalangan hadir ke AtAmerica malam itu, semoga akhirnya kalian bisa bertemu sekumpulan Joni dan Susi lainnya pada Desember 2013 mendatang  :))


Kamis, 28 Maret 2013

3rd Music Gallery: Bertualang Dengan Mesin Waktu

If there is a “time machine”, will be where you want to go?
Tidak perlu tergesa untuk menjawab pertanyaan di atas. Apalagi dengan memberikan jawaban melankolis ingin memutar waktu karena kerinduan akan kenangan manis saat jaman cinta monyet, cinta putih abu-abu, atau cinta-cinta lainnya yang ingin diulang kembali. Kami sendiri punya cerita panjang mengapa memilih untuk balik pada masa-masa seperti ini jika kami punya mesin waktu. Melalui 3rd Music Gallery yang dibuat oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tema Time Machine bermaksud membawa kita bernostalgia pada perjalanan musik Indonesia. Sehingga tidak hanya suguhan yang menarik, namun juga memberi wawasan kepada pengunjung.
Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, Music Gallery dibagi ke dalam dua stage yaitu Demajors Stage dan Jansport Stage. Tepat pukul 16.30, Demajors Stage sudah dibuka oleh sejumlah band seperti Sketsa, Speak Easy, dan Tristan yang mencoba mencuri perhatian pengunjung. Sound yang terdengar kurang apik membuat sebagian pengunjung kurang tertarik untuk merapat ke muka panggung. Menjelang pukul enam sore, Annex Building mulai dipadati pengunjung dan pada jam yang sama, Jansport Stage akhirnya dibuka oleh pengisi acara pertama yaitu Plainlied, yang kemudian dilanjutkan oleh Winter Issue dan Polkawars. Tentu atas faktor susunan pengisi acara, Jansport Stage mendominasi pengunjung malam itu. Namun sayang sekali, persis seperti di bawah, di dalam pun sound terengar kurang apik. Vokal pada Polkawars terasa tenggelam sementara sound drum terlalu kuat, dan gitar sendiri baru benar-benar “muncul” di dua lagu terakhir.
Jelang pukul 19.00, si “mesin waktu” membawa kita ke dalam musik dengan warna garage rock modernmelalui duo kakak–adik dari Bekasi—The Experience Brothers. Beruntunglah, dari awal lagu dimainkansound terasa bulat. Deretan lagu berjudul “Heart Painted Black”, “Young Men” dan berakhir pada lagu “Bonzo” sangat dinikmati oleh penonton yang mulai berdiri menyaksikan permainan gitar Bram yang khas—sampai tiba-tiba setelah lagu tersebut selesai dibawakan, beberapa perempuan berteriak histeris. Ada apa? Rupa-rupanya kejutan pertama telah dimulai. Iga Massardi masuk ke panggung membawa gitar yang dipermanis dengan senyum kecil-nya. Lagu “She’s Alraight” milik The Experience Brothers dibawakan tanpa aransemen yang banyak, namun tentu berbeda karena Iga menambah kaya instrumen pada lagu tersebut. Kejutan belum selesai, The Experience Brother plus Iga medley lagu milik Black Sabbath “Iron Man”–Nirvana “Smells Like Teen Spirit” dan dilanjutkan lagu milik The White Strips “Seven Nation Army”. Bayangkan, mendengar judul lagu-nya saja sudah merinding kita dibuatnya, apalagi berada disana mendengar langsung—jelas membuat kaum adam tidak tahan untuk menggoyangkan tubuhnya. Kejutan itu akhirnya membuat suasana Upper Room seketika terasa panas. Penonton yang duduk sudut-sudut Upper Room serempak berdiri menanti kejutan lainnya.


Setelah berloncat-loncat ria, penonton bisa sedikit beristirahat lewat performa Payung Teduh. Sayang sekali, ketika lagu pertama “Untuk Perempuan yang Sedang Dipelukan” dibawakan, suara Is (vokal) nyaris hilang tak terdengar karena sound yang tenggelam. Namun beruntunglah setelah itu, susunan lagu “Cerita Tentang Gunung dan Laut”, “Angin Pujaan Hujan”, “Berdua Saja” dan “Nurlela”, sound kembali jelas. Berhenti disitu sejenak, karena kejutan kedua dimulai. Panggung Payung Teduh boleh jadi sudah ramai oleh tim backing vocal, tetapi ternyata ada satu orang lagi yang naik ke panggung bergabung bersama mereka. Ya! Ade Paloh dari Sore berjalan pelan membawa gitar-nya masuk ke dalam panggung, penonton kemudian kembali histeris senang. Tanpa banyak kata, mereka membawakan lagu “Menuju Senja”, lagu yang katanya didaulat Payung Teduh untuk Sore tersebut seperti mengajak Upper Room melihat “dua sore”. Payung Teduh kemudian menutup performanya melalui lagu “Resah”.
Akhirnya…. Ini yang ditunggu-tunggu dari sang mesin waktu untuk mengajak kita bernostalgia dengan band yang kini jarang sekali muncul di dunia pertunjukan musik lokal. Siapa lagi kalau bukan The Adams. Band yang sering mengisi pentas seni jaman dahulu membuka panggung-nya lewat lagu “Selamat Pagi Juwita”. Penonton kemudian berkaraoke masal menyanyikan lagu “Waiting”, “Kau Disana”, “Halo Beni”, “Berwisata”, dan tentu ketika lagu “Hanya Kau” dimainkan, serentak penonton yang didominasi oleh anak muda ini ikut bernyanyi terbawa nostalgia suasana putih abu-abu. Setelah “Glorious Time” dengan aransemen yang baru dibawakan, kejutan ketiga dengan cuma-cuma langsung diberikan. Ario memangil Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) ke atas panggung, dan lagi penonton histeris. Seperti menurut The Adams dalam akun twitter-nya, adalah suatu yang jitu mengajak Cholil utuk menyanyikan lagu-nya. Lebih lagi, lagu “Konservatif” yang menjadi identitas The Adams yang dibawakan—tentu momen bersama Cholil tersebut adalah bagian favorit penonton yang membuat banyak orang menyesal tidak datang ke acara ini.
Rumahsakit tidak punya kejutan seperti tiga band sebelumnya. Namun siapa yang peduli? Bagi semua, melihat Rumahsakit di atas panggung adalah obat kerinduan yang sempurnaSemua bersama menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Susunan lagu malam itu masih datang dari album pertama hingga album baru mereka. Lagu “Datang”, “Anomali” “Kuning”, “Bernyanyi Menunggu”, “Sirna” dan “Sakit Sendiri”. Rumahsakit juga mengajak semua bernostalgia melalui lagu “Pop Kinetik”, dan “Hilang” yang sekaligus menjadi lagu penutup panggung mereka.
Seperti Rumahsakit, Efek Rumah Kaca tidak membawa kejutan untuk penonton. Namun bagi mereka yang belum melihat bentuk ambigu dari Efek Rumah Kaca, malam itu jadi bayarannya. Senandung dari album kedua mereka yaitu “Kamar Gelap” menjadi pembuka, yang langsung dilanjutkan dengan lagu “Aku dan Kau Menuju Ruang Hampa”. Lagu “Menjadi Indonesia” dan “Jangan Bakar Buku” malam itu dibawakan dengan format Pandai Besi. Tak ada karaoke masal, yang ada hanya penonton yang terpaku menikmati performa mereka. Sementara itu, lagu yang tidak lain dan tak bukan yaitu “Desember” dengan format Efek Rumah Kaca menjadi lagu penutup performa mereka sekaligus menutup seluruh rangkaian 3rd Music Gallery malam tersebut.

Secara keseluruhan Upper Room sungguh seperti digempur oleh kenangan-kenangan si mesin waktu. Kejutan-kejutan tersebut menurut panitia tidak diminta dengan sengaja oleh mereka, karena menurut band-band pengisi acara, ini merupakan wadah yang pas untuk mengekspresikannya. Mereka berhasil membawa kita pada suguhan yang amat luar biasa dan masih berbekas—entah sampai kapan. Pertunjukan musik lokal dengan susunan pengisi acara yang layak dicontoh, karena memang harus diakui—kita merindukan band macam The Adams dan Rumahsakit—yang jarang kita temui di gigs ibu kota.
Namun yang harus diperhatikan ialah dari segi tata suara yang kurang, karena hal tersebut merupakan suatu yang vital. Juga apabila diamati, Music Gallery tahun lalu lebih dipadati oleh pengunjung dibandingkan tahun ini. Tertariknya masa ke kota kembang atau  mungkin ke lapangan sepak bola hari itu menjadi spekulasi sebagian pengunjung. Namun, siapa yang peduli dengan penuh atau tidaknya Upper Room malam itu? Semua sudah larut akan kejutan-kejutan dari atas panggung si “mesin waktu”dan bagi mereka yang tidak datang mungkin hanya sebuah sesalan yang ada.
Jadi, apabila ditanya ingin pergi kemana jika punya mesin waktu? Jawabannya boleh jadi; datang ke 3rd Music Gallery!

Foto oleh Aloysius Nitia

Sabtu, 16 Februari 2013

Simply Soundtrack Psikosinema Festival 6



Film merupakan salah satu cara untuk kita mendapatkan pesan-pesan kehidupan melalui visualisasi hasil dari pemikiran para pegiat seni film. Di sisi lain, sebuah diskusi dibutuhkan untuk menjadi wadah membedah pesan-pesan tersembunyi tersebut. Dua kombinasi ini—film dan diskusi—bisa jadi sayuran dan kuah-nya. Kombinasi tersebut merupakan warna baru yang positif khususnya bagi kaum muda untuk membuka pikiran kritis dan maju melihat isu-isu sosial yang ada disekitar. Namun rasa apa yang kurang dari kombinasi tersebut? Musik. Tak ada perumpamaan lain. Tanpa musik, film ibaratnya sayur dan kuah tanpa garam.
Pertunjukan musik yang diadakan di Salihara pada 16 Februari kemarin sebagai rangkaian pendukung. Boleh jadi disebut sebagai soundtrack dari Psikosinema Festival ke-6 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas Psikologi (HIMAPSI) UNIKA Atma Jaya Jakarta. Melanjutkan tema “Kaum Urban Muda”, tahun ini Psikosinema membuat spesifikasi tema yang akhirnya menjadi: “Kaum Muda Urban: (Bebas) Memilih Bebas). Sejumlah film sejak tanggal 11 – 16 Februari diputar dengan spesifikasi diantaranya ialah “Berkiblat ke Negeri Orang”, “Meretas Pembedaan Gender”, “Anak Urban Mencari Tuhan”, “Cinta Adalah Sebab”, dan “Kaleidoskop Gairah Muda”. Sekedar info bahwa hasil dari diskusi film-film tersebut dapat dilihat dari website Psikosinema Festival di blog merekahttp://psikosinemafestival.blogspot.com .
Soal waktu, bisa dibilang panitia bekerja dengan baik. Tepat jam 7 malam sesuai dengan rundown, acara dibuka oleh The Experience Brothers. Sederhana saja. Tanpa panggung dan hanya lighting dibagian sisi kiri dan kanan atas, juga lampu yang mempermanis dibagian bawah menambah suasana yang romantis.Crowd duduk manis sesuai dengan seat teater yang sudah ada.
Sejumlah lagu yang sudah tak asing lagi seperti “Young Man”, “Freedom”, “Hearted Painted Black”, dan “She’s Alraight” dibawakan oleh Bram (vokal dan gitar) yang sangat menguasai dengan menikmati panggung walau hanya sendiri di depan. Tidak salah apabila mereka mendapatkan penghargaan dengan kategori Best Performance dari Free Magz. Duo kakak beradik ini seperti biasa mencoba menarik perhatian penonton dengan guyonan-guyonan kecil dijeda lagu ke lagu yang mereka bawakan. Bram dalam jeda tersebut juga membocorkan berita bahwa mereka akan perform di Mosaic Festival, Esplenade Singapura pada Maret mendatang.
Setelah The Experince Brothers menutup performance-nya melalui lagu “She’s Alraight”, kini band kedua dari manajemen yang sama yaitu L’Alphalpha mencoba membawa penonton ke alam mimpi. Yudistira Mahendra (bas) mengatakan bahwa ini adalah kali pertama L’Alphalpha manggung di Salihara—tempat yang sudah lama mereka nantikan. Sederet lagu andalan mereka seperti “Future Days”, “Reverie”, “Clouds” dilantunkan dengan lembut. Pada lagu keempat, L’Alphalpha mengajak penonton bermain dengan sejumlahmusic instrument. Mainan-mainan bayi seperti lonceng dipadukan menjadi musik yang sangat menarik. Cara ini merupakan sebuah interaksi kreatif yang membuat suasana menjadi intim antara band dan penontonnya.
Setelah lagu “Fire Works”, Bram dan Daud dari The Experience Brothers turun ke panggung. Dua band dari satu manajemen, Simpel Ramah Memuaskan (SRM) kini berbagi panggung. Mereka berkolaborasi membawakan lagu “Funk The Hole” milik SORE—untuk ulang tahun band tersebut yang ke-10. Kombinasi warna musik ambient pop dan  blues rock menjadikan lagu “Funk The Hole” sungguh apik.
Selesainya kolaborasi yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari penonton, kini perhatian crowd milik Payung Teduh. Is (vokal dan gitar) yang baru saja sembuh dari sakitnya berkali-kali mengatakan bahwa dirinya sangat senang dapat manggung lagi, dan acara tesebut adalah panggung kedua kali mereka di Salihara. Mungkin karena rindunya itu pula, Is malam itu tak banyak diam. Ia—seperti biasa banyak bercerita tentang kampus dan jembatan Texas-nya.
Payung Teduh membuka penampilannya lewat lagu “Kucari Kamu” yang dilanjutkan dengan lagu “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan”, “Angin Pujaan Hujan”, “Menuju Senja”, “Tidurlah”, dan “Cerita Tentang Gunung dan Laut”. Romantisnyaa dari band ini adalah mereka selalu membawa crowd dengan alami terbawa suasana. Terlebih ketika Is membiarkan penonton bernyanyi, sementara ia hanya memainkan gitarnya. Saat lagu “Kita Adalah Sisa-sisa yang Tak diikhlaskan” dimainkan, listrik tiba-tiba saja mati. Ruangan gelap dan alat musik pun otomatis berhenti. Namun matinya listrik justru menghangatkan suasana teater. Is justru senang bahkan meneruskan permainan gitarnya walau tak didukung listrik. “Nurlela” dan lagu “Rahasia” pun menjadi dua lagu terakhir mereka sekaligus menjadi penutup rangkaian pertunjukan musik.
Dan oleh karena suksesnya sebuah film didukung sebuah musik sebagai soundtrack, pertunjukan musik malam itu bisa dibilang adalah soundtrack dari Psikosinema Festival yang telah lebih dulu diselenggarakan. Tahun berikutnya, semoga Psikosinema Festival dapat terselenggara dengan baik lagi. Sukses!

Foto oleh Aloysius Nitia